Jakarta –
Tahun 1996, Sebagai menelepon seseorang, orang Indonesia mencari telepon umum, menggunakan telepon Tempattinggal, atau membawa pager. Smart Phone belum menjadi benda umum, Malahan pager pun tidak digunakan luas.
Di itu, Smart Phone adalah Produk mahal, Sambil Duniamaya masih Di tahap awal Pembuatan dan belum menjadi Pada Untuk kehidupan sehari-hari. Mesin pencari dan media sosial masih mengawang-awang. Apalagi layanan Penyiaran Langsung video, sama sekali belum terdengar.
Tahun itulah, ketika Indonesia Di ambang revolusi komunikasi, PT Erajaya Swasembada Tbk memulai perjalanannya sebagai perusahaan ritel Didalam awal sederhana, Didalam Budiarto Halim dan Ardy Hady Wijaya. Perusahaan ini didirikan Di 8 Oktober 1996 dan Di itu hanya punya 5 karyawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiga puluh tahun pun berlalu. Di 2026 ini, lanskap Keahlian khususnya penggunaan Smart Phone sepenuhnya berubah. Smart Phone menjadi sangat canggih sesuai nama lainnya, smartphone atau Smart Phone cerdas, dan kini mampu dijangkau banyak lapisan Komunitas.
Pemakai smartphone diibaratkan membawa sekaligus Lensa, Monitor, pemutar Bunyi, konsol gim, peta, hingga alat pembayaran. Fitur-fitur kecerdasan buatan atau AI kini juga tersedia Di berbagai model smartphone yang dapat membantu menulis, Meneliti, menerjemahkan, membuat gambar, hingga Membuat ide.
Ledakan Adopsi Keahlian Untuk Tiga Dekade
Di 1996, jaringan seluler GSM Di Tanah Air Terbaru dirintis. Telkomsel yang lahir Mei 1995, Terbaru menjangkau seluruh provinsi Indonesia Desember 1996. Tiga tahun berikutnya Di 1999, jumlah pelanggan GSM nasional Terbaru 1,5 juta orang.
Tiga puluh tahun Lalu, lanskap itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Perusahaan Eksperimen Gaya daring Exploding Topics mencatat jumlah Pemakai smartphone Di Indonesia mencapai 187,7 juta orang Di 2025 atau Disekitar 68,1 persen total Penduduk Dunia.
Data terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Duniamaya Indonesia (APJII) memperkuat gambaran itu. Di 2026, jumlah Pemakai Duniamaya Di Indonesia menembus 235,26 juta jiwa, setara 81,72 persen Untuk total Penduduk Dunia 287,3 juta penduduk.
Gaya lima tahun terakhir Menunjukkan kenaikan konsisten. Di 2022 tingkat penetrasi Duniamaya sebesar 77%, naik menjadi 78,2% Di 2023, Lalu 79,5% Di 2024, 80,7% Di 2025, hingga 81,72% Di 2026. Ketua Umum APJII, Muhammad Arif, menyebut posisi Duniamaya Untuk kehidupan Komunitas kini bergeser jauh.
“Duniamaya Di ini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi telah menjadi Pada Untuk Kegiatan sosial, ekonomi, Pembelajaran, hingga pelayanan publik Komunitas Indonesia,” katanya.
Perjalanan 30 tahun Erajaya Group Menarik Perhatian dibaca sebagai Pada Untuk perjalanan tersebut. Untuk perusahaan ritel, bertahan Pada tiga dekade tentu tak mudah. Pesaing kuat bermunculan, cara membeli berubah, merek yang dulu dominan dapat kehilangan relevansi, Malahan kebutuhan konsumen yang Sebelumnya Itu tidak ada dapat muncul.
Budiarto Halim, CEO PT Erajaya Swasembada Tbk, merangkum perjalanan 30 tahun tersebut Didalam kalimat refleksi. “Tiga puluh tahun merupakan perjalanan yang penuh pembelajaran, adaptasi, dan transformasi Untuk Erajaya,” katanya.
Menurutnya, Erajaya berhasil membangun Usaha adaptif dan relevan Di Di dinamika pasar. Salah satu buktinya, bertepatan 30 tahun Erajaya Group, perusahaan itu kembali masuk Untuk Fortune Southeast Asia 500 2026 Di Posisi Di-84, naik Untuk Posisi Di-89 tahun Sebelumnya Itu. Ini tahun ketiga berturut-turut mereka masuk daftar tersebut.
Smart Phone sebagai Pusat Produktivitas
Sebuah Smart Phone Di 1996 fungsi utamanya sederhana, yaitu berkomunikasi. Di ini, smartphone dapat digunakan Sebagai banyak hal dan menjadi pintu gerbang Kegiatan Komunitas modern.
Untuk karyawan, smartphone mendukung produktivitas. Untuk mahasiswa berarti akses Di pengetahuan. Untuk pelaku Usaha Kecil Menengah, Smart Phone menjelma menjadi kanal penjualan. Untuk anak muda, smartphone adalah ruang bekerja sekaligus bermain.
Salah satu revolusi terbesar Keahlian adalah perubahan Untuk dunia kerja. Smartphone dan laptop menghapus banyak batas seperti Pertemuan, mengakses email, membuat dokumen, dan lain-lain yang dapat dilakukan Di mana saja. Wabah Internasional Covid-19 menjadi semacam eksperimen Internasional terbesar mengenai hal tersebut.
Untuk waktu singkat, jutaan pekerja dipaksa memindahkan Kegiatan profesional Di ruang digital. Bekerja Untuk Tempattinggal atau WFH marak dilakukan, baik Melewati smartphone maupun laptop. Kini, WFH menjadi Pada Kekayaan Budaya Dunia kantor.
Dorongan produktivitas ini juga terlihat Di skala ekonomi lebih besar. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat ekonomi digital Indonesia diperkirakan mendekati nilai transaksi bruto (GMV) USD 100 miliar Di 2025, mempertahankan posisi sebagai yang terbesar Di Asia Tenggara, Didalam sektor Perdagangan Elektronik sebagai kontributor utama.
Survei APJII 2026 turut mencatat bahwa 18,7 persen alasan Komunitas menggunakan Duniamaya adalah Sebagai transaksi Perdagangan Elektronik dan layanan digital lainnya, indikasi bahwa Smart Phone kini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan penggerak ekonomi Tempattinggal tangga hingga nasional.
Smart Phone sebagai Ruang Hiburan
Di sisi lain, Keahlian juga mengubah cara manusia bersenang-senang. Dulu, kita menunggu Kegiatan Monitor Di jam tertentu. Sekarang kita memilih sendiri kapan menonton. Dulu Bunyi berdentam Melewati radio, kaset, dan CD. Sekarang jutaan lagu ada satu Inisiatif.
Dulu, main gim berarti duduk Di Monitor atau Pc bersama teman Di ruangan yang sama. Sekarang, seseorang Di Jakarta dapat bermain bersama orang Di Seoul atau Los Angeles. Dulu Sebagai membuat Layar Lebar pendek dibutuhkan Lensa, Alat editing, dan distribusi. Sekarang semuanya dapat dimulai Untuk smartphone.
Data APJII 2026 memperlihatkan besarnya porsi hiburan digital Untuk keseharian Komunitas. Kegiatan komunikasi dan media sosial menjadi alasan terbesar mengakses Duniamaya Didalam porsi 19,9 persen, disusul hiburan digital seperti Penyiaran Langsung dan gim sebesar 19,7 persen, hampir berimbang Didalam alasan ekonomi dan transaksi digital.
Artinya Di Komunitas Indonesia, smartphone menjalankan dua peran sekaligus dan nyaris Untuk bobot setara, yaitu sebagai alat kerja dan sebagai ruang rehat.
Di sisi lain, manusia tidak lagi hanya menjadi konsumen hiburan, kita juga menjadi produsen hiburan. Seorang pelajar atau ibu Tempattinggal tangga dapat menjadi kreator atau pemilik Usaha Kecil Menengah dapat membuat iklan sendiri. Keahlian menurunkan biaya menciptakan sesuatu dan ketika biaya mencipta turun, jumlah orang yang dapat berpartisipasi Menimbulkan Kekhawatiran.
Strategi Erajaya
Perubahan perilaku tersebut membawa konsekuensi besar Untuk industri ritel. Informasi produk sudah tersedia Di Duniamaya. Harga bisa dibandingkan Untuk hitungan detik, review dapat ditonton Di YouTube, spesifikasi dapat dicari instan.
Maka pertanyaan muncul, jika semua informasi tersedia Di Duniamaya, mengapa konsumen masih perlu datang Di toko? Jawabannya adalah Penghayatan. Konsumen masih ingin menyentuh Alat, mencoba Lensa, bertanya Di staf, dan Merasakan Dukungan.
Erajaya pun membangun ekosistem ritel. Kuartal pertama 2026, Erajaya telah mengoperasikan lebih Untuk 2.400 gerai Di Indonesia dan Memiliki lebih Untuk 17,5 juta anggota MyEraspace.
|
Salah satu toko Erafone. Foto: Erajaya
|
Akhir Januari 2026, Erajaya meresmikan 29 gerai Terbaru sekaligus Di berbagai Area, mulai Untuk Metro, Slawi, Tegal, Barabai, Baturaja, Tuban, Klaten, Kutoarjo, hingga Tanjung Tabalong Di Kalimantan, memperluas akses ritel Keahlian hingga kota lapis dua dan tiga.
Ekspansi ini berjalan beriringan Didalam penguatan sisi digital. Misalnya, Erajaya Digital punya Inisiatif Erafone Didalam Penghayatan O2O (online to offline) yang menyambungkan transaksi daring dan jaringan toko fisik. CEO Erajaya Digital, Joy Wahjudi, menjelaskan Konsep O2O dijalankan berbarengan.
“Itu tidak terlepas Untuk strategi awal kami Didalam terus Meningkatkan omni channel. O2O itu Karena Itu strategi besar kita Untuk 2019 dan (strategi O2O) harus dikembangkan,” katanya beberapa waktu lalu.
Wakil Direktur Utama PT Erajaya Swasembada Tbk Hasan Aula mengatakan pembukaan gerai offline tetap diperlukan Sebagai memenuhi kebutuhan pelanggan yang masih ingin membeli gadget secara konvensional Didalam datang Di toko. Itu terlihat Sesudah Wabah Internasional Corona, Di mana masih banyak konsumen ingin datang langsung Di toko.
“Di tahun 2021, Didalam mulai kembali bukanya jaringan toko-toko kami, masih dapat kita lihat banyaknya pelanggan yang tetap menyukai bertransaksi Di toko, Sebab ada keinginan Sebagai melihat, mencoba dan merasakan serta Merasakan Penghayatan berbelanja yang memuaskan langsung Untuk sales specialist kami,” sebutnya.
Ketika Keahlian Lebihterus digital, toko fisik tidak lantas lenyap. Toko menjadi tempat konsultasi, mencoba, dan Untuk sebagian konsumen, Sebagai memperoleh rasa percaya Sebelumnya Menerbitkan uang.
Dulu ada dunia online dan offline tapi kini, keduanya makin sulit dipisahkan. Konsumen Mungkin Saja melihat produk Di media sosial, membaca review, membandingkan harga, mencoba Alat Di toko, membeli Melewati Inisiatif, lalu mengambilnya Di gerai.
Erajaya sendiri mencatat bahwa Di 2025 penjualan bersih mencapai Rp 76,6 triliun Didalam laba kotor Rp 8,35 triliun. Usaha digital masih menjadi kontributor terbesar, Disekitar 74 persen Untuk pendapatan, Sambil Usaha active lifestyle, beauty & Keseimbangan, serta food & nourishment menyumbang Pada lain Untuk portofolio.
Komposisi tersebut Menunjukkan Erajaya tak lagi hanya bertumpu Di Usaha Alat Telecom dan Keahlian. Perusahaan bertahap membangun ekosistem yang menjangkau kebutuhan konsumen yang lebih luas, mulai Untuk Keahlian, Aktivitasfisik dan Life Style hingga Minuman dan minuman.
Sektor Alat pun bukan hanya Yang Terkait Didalam smartphone. Orang membeli smartwatch Sebagai Aktivitasfisik, earbuds Sebagai bekerja sekaligus menikmati Bunyi, Lensa Sebagai membuat konten, dan Alat Tempattinggal pintar Sebagai kenyamanan. Survei Jakpat tahun 2023 menyebut satu Untuk tiga orang Indonesia punya smartwatch, membuktikan pasarnya Lebihterus besar.
Malahan Sepedamotor Listrik dan berbagai produk Life Style mulai bersinggungan Didalam ekosistem Keahlian. Erajaya pun menyediakan semua kebutuhan itu Di toko-tokonya, baik offline maupun online.
30 Tahun Erajaya
Ketika Erajaya memulai perjalanan Di 1996, Smart Phone adalah benda yang digunakan terutama Sebagai berkomunikasi. Tiga puluh tahun Lalu, smartphone menjadi salah satu pusat kehidupan manusia.
Maka perjalanan 30 tahun Erajaya Group tak hanya kisah perusahaan distribusi dan ritel. Ia juga dapat dibaca sebagai potongan perjalanan transformasi Indonesia yang bergerak Untuk sekadar terkoneksi Di benar-benar produktif dan terhibur secara digital.
Angka memang penting Tetapi Samping Itu, Di balik satu smartphone terjual Mungkin Saja ada mahasiswa yang bisa belajar lebih mudah. Di balik satu smartwatch, Mungkin Saja ada seseorang yang mulai serius menjaga Kesejaganan. Di balik satu earbuds, Mungkin Saja ada pekerja yang fokus menyelesaikan pekerjaan Di sela keramaian kota.
Mungkin Saja itulah cara membaca perjalanan 30 tahun Erajaya. Selain seberapa banyak Smart Phone didistribusikan atau seberapa banyak toko dibangun, penting juga dilihat seberapa jauh Keahlian Di tangan Komunitas dapat memperluas apa yang mampu mereka lakukan.
Budiarto Halim mengatakan tiga dekade Erajaya adalah perjalanan pembelajaran, adaptasi, dan transformasi. Ia menambahkan capaian tersebut tidak lepas Untuk kepercayaan banyak pihak.
“Pencapaian ini tidak lepas Untuk kepercayaan pelanggan, Dukungan para mitra Usaha, pemegang saham, serta dedikasi seluruh karyawan yang telah menjadi Pada Untuk perjalanan Erajaya Pada tiga dekade ini,” sebutnya.
Erajaya memasuki dekade keempat Di Di perubahan yang Malahan Mungkin Saja lebih cepat. Mereka melakukan strategi jitu seperti diversifikasi, omnichannel, ekspansi, dan kemampuan Menyesuaikan Di perubahan pasar.
Selain mengikuti Keahlian berikutnya, memahami manusia yang menggunakannya memang penting. Dan Sesudah 30 tahun, Mungkin Saja itulah cerita besar Erajaya, perusahaan yang memulai ketika Smart Phone hanya digunakan Sebagai menelepon lalu tumbuh bersama sebuah negeri Di mana Keahlian Karena Itu pintu Di kemungkinan-kemungkinan Terbaru.
(fyk/fyk)
Fino Yurio Kristo
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom yang fokus Di berita Keahlian.
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Inet.detik.com Indonesia: Menilik 3 Dekade Transformasi Life Style Digital Di Indonesia











