Jakarta, CNN Indonesia —
Eropa dilanda gelombang panas terparah Untuk sejarah. Para ilmuwan menyebut Trend Populer ini kemungkinan besar terjadi Lantaran krisis iklim yang dipicu Dari pembakaran bahan bakar fosil.
Hampir separuh Di 850 kota besar Hingga Eropa kini Berjuang Di Kemakmuran tingkat Beban panas tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini terjadi Lantaran tingginya tingkat kelembapan udara, yang membuat keringat menjadi kurang efektif mendinginkan tubuh, Agar gelombang panas Karena Itu jauh lebih berbahaya Untuk Kesejajaran.
Analisis ini dirilis ketika Inggris Merasakan Catatan suhu tertinggi sepanjang sejarah Untuk bulan Juni, yakni 36,7 derajat Celsius Hingga Somerset Di Kamis (25/6). Sambil Itu, sebagian besar Area Eropa Barat melaporkan lonjakan drastis Untuk Peristiwa Pidana Hukum darurat medis, Justru beberapa Hingga antaranya berujung Di kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analisis terbaru Di konsorsium World Weather Attribution (WWA) Menunjukkan betapa cepatnya cuaca ekstrem memburuk seiring menumpuknya polusi karbon Hingga atmosfer Bumi. Sebagai perbandingan, jika gelombang panas seperti sekarang terjadi Di 2003, suhunya Akansegera 2 derajat Celsius lebih rendah, Lantaran pemanasan Dunia Di itu belum separah sekarang.
Justru, jika dibandingkan Di gelombang panas paling bersejarah tahun 1976, suhu Di itu masih 3,5 derajat Celsius lebih sejuk Di Trend Populer Di ini. Di Itu, suhu malam hari yang sangat menyengat, kini berisiko 100 kali lebih Bisa Jadi terjadi dibanding Di 2003.
Para ilmuwan memperingatkan tanpa tindakan nyata dan mendesak Untuk mengatasi krisis iklim, Kemakmuran Hingga masa Didepan Akansegera jauh lebih ekstrem. Justru, musim panas tahun ini yang Dikatakan sangat menyiksa bisa Karena Itu Akansegera terasa ‘sejuk’ jika dibanding Di masa Didepan.
“Ini adalah gelombang panas paling parah dan meluas yang pernah Menyapu Area sebesar ini Hingga Eropa,” kata Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem Di Imperial College London, yang juga Dibagian Di Skuat WWA, melansir The Guardian, Senin (29/6).
“Kami menemukan bahwa Untuk 50 tahun terakhir, ketika Bumi memanas sebesar 1,1 derajat Celsius, Kemungkinan terjadinya gelombang panas seperti ini melonjak drastis. Trend Populer ini mustahil terjadi Hingga bulan Juni tanpa Krisis Lingkungan,” lanjut dia.
Untuk mengukur dampak nyata Di kelembapan yang tinggi, para ilmuwan menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT). Menurut Keeping, indikator ini mengukur kemampuan tubuh manusia Untuk mendinginkan dirinya sendiri.
Menyambut Baik hasil analisis WWA, Kepala Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa Simon Stiel menegaskan bahwa krisis iklim Lebih tidak terkendali. Ia menuding bahwa hal ini terjadi Lantaran ketergantungan dunia Di batu bara, Migas, dan gas Bumi.
“Akan Tetapi, solusinya sebenarnya sudah jelas: kita harus mempercepat transisi Hingga energi bersih, yang kini jauh lebih murah daripada bahan bakar fosil, serta melindungi hutan dan membangun ketahanan Pada dampak Krisis Lingkungan,” kata Stiel.
Bukan Lantaran El Nino
Untuk studinya, WWA menggunakan data suhu riil dan prakiraan cuaca yang akurat Untuk Meneliti periode tiga hari terpanas Hingga Area Eropa yang Di ini terjebak Hingga bawah Trend Populer kubah panas atau heat dome. Menguji data Di metode ilmiah yang ketat, mereka memastikan bahwa krisis iklim adalah dalang utama Hingga balik panas ekstrem Di ini.
Mereka juga membantah bahwa ini adalah variasi cuaca alami, termasuk menepis anggapan bahwa Trend Populer ini disebabkan variasi alami cuaca, termasuk pengaruh El Nino yang Untuk berkembang Hingga Samudra Pasifik.
Menurut para ilmuwan, sistem tekanan tinggi yang menahan udara panas Hingga Eropa dan Menarik Perhatian angin hangat Di Gurun Sahara sebenarnya adalah pola cuaca yang lumrah terjadi Hingga musim panas. Akan Tetapi, suhu panasnya menjadi berkali-kali lipat lebih ekstrem Lantaran didorong Dari pemanasan Dunia.
Carolina Pereira Marghinda Di Red Cross Red Crescent Climate Centre menyebut bahwa banyak Negeri sudah berinvestasi Di sistem peringatan dini dan Ide mitigasi, usai gelombang panas dahsyat Hingga Eropa Di 2003. Langkah ini terbukti menyelamatkan banyak nyawa, tapi kini upaya tersebut dirasa tidak lagi memadai.
Menurutnya, suhu panas yang Lebih intens ini mulai melumpuhkan sektor Kesejajaran, transportasi, sistem energi, dan kehidupan sehari-hari.
“Kita membutuhkan Penanaman Modal Asing yang lebih besar Untuk membangun Tempattinggal, kota, dan infrastruktur yang Bertahan panas agar Kelompok tetap aman,” jelas Marghidan.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnnindonesia.com Indonesia: Pakar Ungkap Penyebab Eropa Dihantam Gelombang Panas Terparah











