Bos Nvidia Klaim Masa Pakai Chip AI Buatannya Awet: Lebih Untuk 8 Tahun

Jakarta –

CEO Nvidia Jensen Huang mengklaim bahwa akselerator kecerdasan buatan (AI) buatan perusahaannya mampu terus produktif hingga delapan tahun atau lebih. Pernyataan ini mematahkan anggapan umum industri Ilmu Pengetahuan yang Pada ini menilai masa pakai prosesor Visual (GPU) hanya berkisar empat tahun.

Berbicara Untuk konferensi Nvidia GTC Hingga Berlin, Huang menggambarkan akselerator AI Nvidia sebagai Alat yang sangat produktif, fleksibel, dan Konsisten lama. Ia pun mengimbau para investor dan lembaga keuangan Untuk mengubah cara pandang mereka Untuk menilai Penanaman Modal Asing infrastruktur AI.

Risiko Pinjaman Paling Rendah dan Kurs Mata Uang Tinggi

Menurut Huang, risiko pemberi pinjaman yang dijaminkan Di Alat keras Nvidia merupakan salah satu yang paling rendah dibanding aset lainnya. Hal ini disebabkan Dari nilai sisa chip Nvidia yang tetap tinggi serta kemampuannya Untuk dialihkan Hingga berbagai jenis workload dan konsumen yang berbeda.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Fleksibilitas akselerator AI Nvidia belum sepenuhnya dipahami Dari para financier Untuk menilai nilai jangka panjangnya,” ungkap Huang.

Gaya Defender nilai ini dibuktikan Dari beberapa lini chip AI Nvidia Hingga pasar secondary:

  • Nvidia A100 & H100: Mempertahankan nilai jual kembali yang jauh lebih tinggi Untuk Prakiraan awal industri.
  • Nvidia H100: Dilaporkan Memiliki nilai jual yang justru lebih mahal hari ini dibandingkan Pada pertama kali diluncurkan, berkat optimasi Alat lunak dan Cara inference Mutakhir.
  • Nvidia B200: Malahan disewakan atau diperdagangkan Hingga pasar sekundar Di harga menyentuh 158 persen Untuk harga pembelian awalnya.

Didukung Elon Musk: Unggul Hingga Efisiensi ‘Performance-per-Watt’

Pandangan Jensen Huang ini senada Di pernyataan CEO Mobil Listrik Tesla dan xAI, Elon Musk. Musk Sebelumnya berpendapat bahwa akselerator AI generasi lama justru bisa lebih menguntungkan ketimbang Alat keras terbaru Untuk menangani workload inference, terutama berkat efisiensi kinerja per watt.

Musk menilai bahwa pelaku industri seharusnya Menilai Alat keras AI berdasarkan seberapa banyak kecerdasan yang sanggup dihasilkan per watt listrik, ketimbang hanya Memusatkan Perhatian Di daya raw processing power.

Di terus meningkatnya optimasi model AI dan Cara inference, Prestasi hardware lama seperti H100 terus Meresahkan seiring berjalannya waktu tanpa perlu mengganti fisik komponen.

Kendati demikian, para pengamat industri mengingatkan bahwa nilai pasar bekas Untuk akselerator AI tetap dipengaruhi Dari faktor Situasi fisik Alat, ketersediaan stok, konfigurasi sistem, serta jenis beban kerja (workload) yang Berencana dijalankan, demikian dikutip detikINET Untuk Techspot, Senin (26/10/2026).

(asj/fay)



Anggoro Suryo Jati


Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom yang fokus Di Permasalahan Ilmu Pengetahuan. Lulusan Universitas Padjadjaran. Bergabung Sebelum 2014.

`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}

async connectedCallback() {

if (elementType === ‘single’) return false;

this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)

Artikel ini disadur –> Inet.detik.com Indonesia: Bos Nvidia Klaim Masa Pakai Chip AI Buatannya Awet: Lebih Untuk 8 Tahun

สัมผัสความตื่นเต้นของเกมลิขสิทธิ์แท้และระบบที่เสถียรที่สุดเมื่อคุณเลือก ทดลองเล่นสล็อต pg ผ่านมือถือของคุณ