loading…
Gaya mengubah foto menjadi 80an menggunakan AI memicu Perdebatan Pada dampak penggunaan AI dan lingkungan. Foto: ist
Ke Ditengah gegap gempita Perkembangan yang menawarkan kemudahan dan efisiensi, kekhawatiran publik Berencana ancaman krisis air dan lonjakan konsumsi listrik akibat operasional pusat data AI Lebihterus mengemuka.
Berbagai informasi berseliweran Ke ruang publik, mulai Di proyeksi kekeringan yang mengerikan hingga bantahan Di para petinggi raksasa Ilmu Pengetahuan yang kerap menyebut Permasalahan lingkungan tersebut terlalu dibesar-besarkan. Karena Itu, mana yang benar?
Proyeksi Organisasi Internasional dan Tingginya Beban Inferensi
Kekhawatiran Berencana besarnya konsumsi sumber daya AI bukanlah isapan jempol. Laporan Institut Air, Lingkungan, dan Kesejaganan Universitas Organisasi Internasional (UNU-INWEH) Ke Juni 2026 mengonfirmasi bahwa jejak air pusat data AI diproyeksikan mencapai 9,3 triliun liter per tahun Ke 2030.
Angka ini secara riil setara Di kebutuhan air domestik dasar seluruh 1,3 miliar penduduk Afrika Sub-Sahara Di setahun.
Di sisi kelistrikan, AI diprediksi Berencana menyedot 945 terawatt-jam (TWh), hampir tiga kali lipat konsumsi gabungan Negeri padat penduduk seperti Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria.
Laporan ini juga menggarisbawahi fakta krusial yang sering luput Di perhatian publik: 80 hingga 90 persen konsumsi energi AI justru tidak terjadi Ke masa pelatihan model, melainkan Ke tahap inferensi, yakni Di sistem beroperasi menjawab jutaan permintaan harian Pemakai.
Konteks Lonjakan Air yang Hilang
Ke ranah perdebatan lain, terdapat klaim valid yang sayangnya kerap kehilangan konteks waktu, seperti pernyataan bahwa kebutuhan air AI melonjak 129 persen.
Artikel ini disadur –> Sindonews.com Indonesia: Berapa Liter Air Sebagai Satu Foto AI 80-an Anda?











