Daftar Isi
Jakarta –
Sederet profesi Bersama gaji tinggi ini kini tak aman lagi. Malahan berpeluang menjadi ladang pengangguran, akibat perubahan besar yang Di Mengamuk pasar tenaga kerja Internasional.
Gejalanya terlihat Di meningkatnya frekuensi pemutusan hubungan kerja (Pengurangan Tenaga Kerja). Efisiensi yang awalnya hanya bersifat Sambil Itu, sekarang berevolusi menjadi penataan ulang jangka panjang Di banyak perusahaan besar.
Melansir CNBC Indonesia, Minggu (5/7/2026), tekanan paling nyata dirasakan Bersama industri Ilmu Pengetahuan, jasa keuangan, hingga konsultan Usaha. Profesi yang dahulu banyak diminati Bersama orang-orang ini, malah masuk daftar pekerjaan rentan dipangkas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di April 2026, terkuak tingkat pengangguran Di sektor Ilmu Pengetahuan informasi mencapai 3,8%, naik Di Maret 2026 sebesar 3,6%, berdasarkan Di firma konsultan Janco Associates yang mengacu Di Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat.
Beberapa Usaha, khususnya sektor Ilmu Pengetahuan mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu penyebabnya. Contoh, kecanggihannya menjadi alasan Meta memangkas Disekitar 8 ribu pegawai atau 10%.
Selain Meta, Nike juga Memangkas 2% atau Disekitar 1.400 karyawannya. Sebagian besar mengisi posisi Di departemen Ilmu Pengetahuan, Bersama alasan menyederhanakan operasional Internasional. Lalu ada Snap yang Akansegera memecat 16% jumlah karyawan atau 1.000 peranan.
Bidang Ilmu Pengetahuan lainnya, seperti Telecom dan pengolahan data Merasakan pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan. Puncak Kemakmuran ini terjadi Di November 2022 lalu.
Guncangan Di Sektor Ilmu Pengetahuan dan Perbankan
Ketika tech-boom masih Di masa kejayaannya, para insinyur Alat lunak (software engineers), analis data (data scientists), hingga Instruktur produk (product managers) menjadi Barang Dagangan paling mahal Di pasar tenaga kerja. Tidak sedikit perusahaan yang bakar uang Untuk merekrut talenta digital terbaik tersebut, Bersama menawarkan gaji dua kali lipat hingga opsi kepemilikan saham.
Sayangnya era itu telah berakhir. Pengetatan Aturan moneter Internasional dan tingginya suku bunga membuat aliran modal ventura (venture capital) tidak sebasah seperti masa keemasannya. Alhasil, perusahaan Ilmu Pengetahuan mulai Di skala Mula hingga Big Tech terpaksa melakukan rasionalisasi biaya secara agresif.
Ironisnya, pekerja Bersama gaji tertinggi yang paling awal terkena dampaknya. Alasannya sudah pasti, yakni Untuk menyelamatkan neraca keuangan perusahaan.
Begitu pun Di sektor perbankan Penanaman Modal Asing (investment banking) dan konsultan manajemen papan atas. Penurunan Karya Unjuk Rasa korporasi seperti merger dan akuisisi (M&A), serta penawaran umum perdana (IPO) secara Internasional membuat posisi-posisi analis berpendapatan tinggi kehilangan urgensinya.
Ancaman Nyata AI
Di ini, AI tidak hanya menggeser pekerjaan kasar atau repetitif, melainkan sudah mulai mengikis sejumlah profesi kerah putih (white-collar workers) berketerampilan tinggi. Bisa dilihat, profesi seperti analis hukum, pembuat kode Kode tingkat dasar hingga menengah (mid-level coders), analis Eksperimen pasar, hingga spesialis keuangan kini bisa direplikasi Bersama sistem AI.
Banyak perusahaan Memahami, Bersama mengintegrasikan AI, mereka bisa menyusutkan jumlah Skuat hingga separuhnya tanpa menurunkan produktivitas. Hal ini menciptakan surplus tenaga kerja ahli Di pasar, Di mana jumlah pelamar kerja berkualifikasi tinggi jauh melampaui lowongan yang tersedia.
Kepala Eksekutif Janco, Victor Janulaitis, menjelaskan alasan perusahaan menunda atau Memangkas perekrutan tenaga IT. Menurutnya, Sebab dunia Di Berjuang Bersama Ketidakstabilan Ekonomi dan ketidakpastian ekonomi.
“Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI Sebagai sesuatu yang Bisa Jadi tidak menghasilkan?” ucap Janulaitis, dikutip Di Wall Street Journal.
Dampak Psikologis dan Perbankan ‘Life Style’
Kejadian Luar Biasa menganggurnya para pekerja bergaji tinggi membawa dampak yang signifikan Di gaya hidupnya. Mereka umumnya Memiliki beban Perbankan yang disesuaikan Bersama pendapatan tinggi, mulai Di cicilan hunian premium, kendaraan mewah, hingga biaya Pembelajaran anak Di sekolah internasional.
Ketika menganggur, kelompok ini sering kali Merasakan lifestyle inflation shock. Mereka kesulitan menurunkan standar hidup Bersama cepat, sedangkan tabungan Lebih tergerus.
Di sisi lain, proses pencarian kerja Mutakhir Untuk para eksekutif dan profesional senior memakan waktu yang jauh lebih lama. Perusahaan yang Di melakukan efisiensi cenderung enggan merekrut kandidat yang Dikatakan overqualified, Sebab kekhawatiran Akansegera ekspektasi gaji terlalu tinggi.
Para pengamat ketenagakerjaan menilai, Kemakmuran ini memaksa para profesional Sebagai melakukan reskilling atau Malahan menurunkan ekspektasi kompensasi (salary downgrade). Hal itu dilakukan supaya mereka bisa kembali terserap Ke Di pasar kerja, yang kini jauh lebih Bersaing dan pragmatis.
(hps/hps)
Artikel ini disadur –> Inet.detik.com Indonesia: Nasib Berbalik, Profesi Bergaji Tinggi Ini Kini Paling Rentan Pengurangan Tenaga Kerja











