Jakarta, CNN Indonesia —
Ekspedisi OceanX Hingga perairan Indonesia Membeberkan 93 persen habitat paus dan lumba-lumba Hingga perairan barat Sumatra berada Hingga luar area konservasi. Temuan ini dinilai dapat membantu Pendesainan konservasi Hingga masa Didepan.
“Survei ini mengisi kekosongan data yang Pada ini membatasi pengelolaan cetacean Hingga laut lepas Indonesia,” ujar Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia dan penulis utama studi Untuk keterangannya, Rabu (14/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Skala dan Standar data ini memungkinkan Pendesainan konservasi yang benar-benar berbasis bukti,” tambahnya.
Hasil survei ekspedisi OceanX Indonesia Mission, yang juga bekerja sama Didalam Konservasi Indonesia dan Badan Eksperimen dan Pembaharuan Nasional (BRIN), Terbaru saja dipublikasikan Untuk Frontiers in Marine Science.
Survei transek udara khusus mamalia laut (cetacean) disebut sebagai yang pertama Hingga perairan barat Sumatra. Daerah yang masuk Hingga Untuk perairan barat Sumatra Hingga Samudra Hindia itu Pada ini relatif kurang dipelajari Kendati diakui Memperoleh nilai keanekaragaman hayati laut yang tinggi.
Survei ini dilaksanakan Di Mei hingga Juli 2024 dan mencakup 15.043 kilometer atau setara jarak Untuk Bali Hingga Kanada.
Para peneliti melakukan pengamatan dan mencatat 77 sighting Untuk 10 spesies cetacean, termasuk konfirmasi udara pertama paus pembunuh (killer whale) dan paus pembunuh kerdil (pygmy killer whale) Hingga Daerah barat Indonesia.
Didalam mengintegrasikan data historis, jumlah spesies cetacean yang terdokumentasi Hingga kawasan ini kini mencapai 23 spesies, atau 68 persen Untuk total cetacean yang diketahui Hingga Indonesia.
Analisis pola sebaran cetacean Menunjukkan adanya tujuh klaster habitat berbeda, yang terbentuk akibat perbedaan bentuk dasar laut dan tingkat produktivitas perairan. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika oseanografi memainkan peran penting Untuk menentukan Daerah yang dimanfaatkan paus dan lumba-lumba Hingga perairan barat Sumatra.
Hotspot kepadatan tinggi, yang didominasi Dari spinner dolphin dan striped dolphin, teridentifikasi terutama Hingga luar kawasan konservasi.
Sebanyak 93 persen hotspot disebut berada Hingga luar kawasan konservasi laut yang ada maupun yang diusulkan.
Para peneliti mengidentifikasi hal tersebut sebagai penanda ketidaksesuaian Di jejaring kawasan konservasi Pada ini dan distribusi aktual habitat penting cetacean, khususnya Hingga Daerah offshore.
Pemodelan spasial juga Menunjukkan tumpang tindih yang signifikan Di habitat cetacean Didalam Kegiatan perikanan intensif dan lalu lintas maritim, yang Berpeluang Memperbaiki risiko Bagi spesies tertentu seperti paus pembunuh, paus Omura, dan paus sperma, yang masuk Untuk kategori spesies terancam punah.
Paus dan lumba-lumba diketahui sebagia spesies laut Didalam jangkauan jelajah luas, perilaku Mobilitas Penduduk kompleks, dan tingkat keterdeteksian rendah, Agar Eksperimen distribusi dan habitatnya Berjuang Didalam tantangan besar, khususnya Hingga Daerah laut lepas yang terpencil dan berbiaya tinggi Bagi Eksperimen.
Situasi tersebut Pada ini membatasi ketersediaan data ilmiah yang dibutuhkan Bagi pengelolaan dan konservasi yang efektif Hingga perairan Indonesia.
Kehadiran Eksperimen semacam ini dinilai sebagai jawaban atas tantangan tersebut.
Pentingnya perlindungan terarah
Konservasi Indonesia menilai temuan tersebut menegaskan kebutuhan Berencana perlindungan spasial yang terarah, Pendesainan ruang laut adaptif, serta langkah mitigasi spesifik per spesies sebagai pelengkap Di target 30×45. Target 30×45 sendiri merupakan inisiatif nasional Bagi memperluas area konservasi perairan menjadi 30 persen Ke 2045.
Hingga Samping Itu, temuan ini juga memperkuat pelaksanaan Inisiatif inisiatif nasional Blue Halo S, yang fokus Ke penguatan tata kelola perikanan, perlindungan habitat laut penting, serta Pembaruan ekonomi biru berkelanjutan Hingga perairan barat Sumatra.
“Studi ini menyediakan baseline ekologi yang krusial dan secara presisi mengidentifikasi area prioritas, Agar perlindungan dapat dirancang selaras Didalam Ketahanan pemanfaatan laut,” kata Victor Nikijuluw, Senior Ocean Inisiatif Advisor Konservasi Indonesia.
Menurutnya, Daerah barat Sumatra Memperoleh dasar ilmiah yang kuat Bagi diusulkan sebagai Important Marine Mammal Area (IMMA), sejalan Didalam statusnya sebagai Ecologically or Biologically Significant Marine Area (EBSA).
Lebih Jelas, Vincent Pieribone, Co-CEO dan Chief Science Officer OceanX melihat hasil studi ini sebagai kekuatan Penjelajahan multi-platform Hingga mana Alat canggih dipadukan Didalam kemampuan Eksperimen ilmiah yang kuat.
“OceanX mendukung misi ini Didalam mengintegrasikan operasi penerbangan, kapal, dan sistem data Agar pengamatan udara dapat dihubungkan Didalam informasi oseanografi dan dasar laut secara waktu nyata,” tuturnya.
“Kemampuan tersebut membantu Regu membangun gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana paus dan lumba-lumba memanfaatkan Daerah lepas pantai yang terpencil ini,” imbuhnya.
Pieribone mengatakan temuan-temuan ini memperdalam basis data ilmiah Bagi memahami ekosistem Sumatra Pada barat.
Mendukung temuan ini, Direktur Pengelolaan Armada Kapal Eksperimen BRIN Nugroho Dwi Hananto Berkata menyebut ketersediaan data dan informasi ilmiah yang akurat sangat penting Bagi Menyediakan masukan Bagi pemerintah Untuk upaya merancang intervensi yang relevan dan dapat Digunakan secara efektif.
“Kerja sama penggunaan Kapal Eksperimen RV OceanXploration milik OceanX Didalam melibatkan para periset Untuk BRIN, Konservasi Indonesia, dan perguruan tinggi kini telah menghasilkan temuan penting yang Berencana berdampak signifikan,” katanya.
(lom/dmi)
Artikel ini disadur –> Cnnindonesia.com Indonesia: Habitat Paus dan Lumba-lumba Hingga Sumatra Hingga Luar Area Lindung









