Dukung Pemberlakuan PP Tunas, Ini Kata Google dan Meta


Jakarta, CNN Indonesia

Google dan YouTube mengaku mendukung aturan PP Tunas, khususnya pendekatan penilaian mandiri berbasis risiko. Akan Tetapi, perusahaan menilai pembatasan akses secara menyeluruh Bagi User Di bawah 16 tahun Berpeluang menimbulkan dampak negatif.

Google menegaskan bahwa anak-anak perlu Memiliki ruang aman Bagi belajar dan bereksplorasi Di dunia digital. Di lebih Didalam satu dekade, perusahaan mengklaim telah Membuat berbagai Keahlian dan sistem perlindungan Bagi menjaga Perlindungan User muda, tanpa harus membatasi akses mereka sepenuhnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Google menilai pendekatan berbasis risiko Untuk PP Tunas lebih efektif dibandingkan pelarangan total. Skema ini dinilai dapat Mendorong Pembaruan fitur perlindungan yang terintegrasi dan Penghayatan digital yang sesuai usia, sekaligus memberi ruang Bagi orang tua Bagi mengawasi Karya anak.

“Regulasi yang efektif seharusnya menghargai perbedaan tahapan perkembangan anak dan remaja sesuai usianya Didalam Memberi keleluasaan Bagi orang tua Bagi memilih, daripada langsung menerapkan pelarangan menyeluruh (blanket ban),” tulis Google Untuk blog resminya, Jumat (27/3).





Perusahaan juga Menginformasikan fitur pengawasan yang mereka kembangkan telah digunakan luas Dari keluarga Di Indonesia. Sebanyak 92 persen orang tua yang menggunakan fitur tersebut Berkata lingkungan digital anak menjadi lebih aman dan terkontrol.

Beberapa fitur yang diandalkan Ditengah lain pengaturan durasi menonton YouTube Shorts, Keahlian verifikasi usia berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga pengelolaan waktu layar Melewati Family Link.

Di Di Itu, terdapat pula fitur Kesejaganan digital seperti pengingat istirahat, pembatasan notifikasi malam hari, dan penonaktifan autoplay Bagi User Di bawah 18 tahun.

Menurut Google pembatasan akun secara menyeluruh Bagi anak Di bawah 16 tahun justru Berpeluang menghilangkan akses Di fitur-fitur perlindungan tersebut. Dampaknya, anak-anak bisa kehilangan sistem pengawasan yang Di ini membantu menjaga Perlindungan mereka Di platform.

Di sisi lain, YouTube disebut sebagai salah satu pilar pembelajaran digital Di Indonesia. Platform ini dinilai berperan besar Untuk memperluas akses Pembelajaran, terutama Bagi siswa Di Lokasi terpencil.

Data internal perusahaan Menunjukkan 90 persen orang tua Di Indonesia menilai YouTube mempermudah akses pembelajaran. Di Di Itu, 96 persen guru yang menggunakan platform tersebut telah mengintegrasikan konten YouTube Untuk Wacana pembelajaran formal.

Google juga menyoroti kontribusi ekosistem kreator Pelatihan atau “edukreator” yang tidak hanya mendukung pembelajaran, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi Di ekonomi digital nasional.

Ke Di, Google Mendorong pemerintah Bagi terus melibatkan pelaku industri Untuk penyusunan Aturan secara transparan. Perusahaan Berkata siap berpartisipasi Untuk implementasi PP Tunas Melewati mekanisme penilaian mandiri, sekaligus menegaskan komitmennya Untuk menjaga Perlindungan User muda Di ruang digital.

Meta, induk Facebook dan Instagram, juga Berkata komitmennya Bagi mematuhi aturan pemerintah. Perusahaan menyebut Berencana terus Membahas Didalam Komdigi Untuk beberapa bulan Ke Di, termasuk mengenai penilaian mandiri berbasis risiko dan Berencana Menyusun Bagi hasil akhirnya.

Berni Moestafa, Kepala Aturan Publik, Indonesia dan Filipina, Meta mengatakan bahwa Dari peraturan ini disahkan tahun lalu, pihaknya sudah Mengintroduksi Akun Remaja Bagi Instagram dan Facebook Di Indonesia sebagai Pada Didalam komitmen Di Perlindungan remaja.

“Akun Remaja Memperkenalkan Penghayatan Facebook dan Instagram yang dirancang ulang Bagi remaja, dan mencakup perlindungan yang terintegrasi Bagi mengatasi kekhawatiran utama para orang tua, termasuk Didalam siapa remaja berinteraksi secara daring, konten apa saja yang mereka lihat, serta apakah waktu mereka digunakan secara produktif. Semua Penghayatan ini diaktifkan secara otomatis,” kata Berni.

“Kami telah menempatkan puluhan juta remaja Indonesia Di Facebook dan Instagram Ke Untuk Akun Remaja, yang kami yakini Memberi Penghayatan berisiko rendah sebagaimana dimaksud Untuk PP Tunas. Kami juga berkomitmen Bagi terus Memberi Pelatihan kepada orang tua dan wali agar mereka mengetahui tentang Akun Remaja dan fitur-fitur Perlindungan yang tersedia,” tuturnya menambahkan.

Aturan PP Tunas disahkan Kepala Negara Prabowo Subianto Di 28 Maret 2025, tapi Mutakhir Digunakan secara penuh Di 28 Maret 2026.

Menkomdigi Meutya Hafid juga sudah menerbitkan Peraturan Pejabat Tingginegara Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan turunan Didalam PP Tunas. Penerbitan aturan ini sekaligus Mengintroduksi 28 Maret sebagai awal implementasi aturan tersebut.

Di awal implementasi tersebut, platform Berencana diminta secara bertahap menonaktifkan akun-akun milik anak. Platform yang wajib mengikuti aturan ini yakni Roblox, YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, dan Bigo Live.

(wpj/dmi)


Add

as a preferred
source on Google





Artikel ini disadur –> Cnnindonesia.com Indonesia: Dukung Pemberlakuan PP Tunas, Ini Kata Google dan Meta

สัมผัสความตื่นเต้นของเกมลิขสิทธิ์แท้และระบบที่เสถียรที่สุดเมื่อคุณเลือก ทดลองเล่นสล็อต pg ผ่านมือถือของคุณ