Ahli Peringatkan Risiko Keruntuhan Ekonomi Dunia Akibat Krisis Iklim


Jakarta, CNN Indonesia

Para ahli memperingatkan, model ekonomi yang keliru berisiko memicu krisis keuangan Dunia seiring dampak krisis iklim yang kian parah.

Mereka menilai, Perawatan Bersama krisis tersebut Berencana jauh lebih sulit dibandingkan krisis keuangan 2008, Lantaran kerusakan lingkungan tidak bisa ‘diselamatkan’ Bersama cara yang sama seperti penyelamatan bank.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring dunia melaju Di pemanasan Dunia 2 derajat Celsius, risiko bencana cuaca ekstrem dan titik kritis iklim Meresahkan Bersama cepat. Tetapi, para peneliti mengatakan bahwa model ekonomi yang digunakan Bersama pemerintah dan lembaga keuangan Pada ini sama sekali tidak memperhitungkan guncangan semacam itu, melainkan Meramalkan bahwa Kemajuan ekonomi yang stabil hanya Berencana melambat akibat kenaikan suhu rata-rata yang bertahap.

Hal ini Lantaran model-model ekonomi tersebut mengasumsikan bahwa masa Didepan Berencana berperilaku seperti masa lalu, Walaupun pembakaran bahan bakar fosil Merangsang sistem iklim Hingga Area yang belum pernah terjadi Sebelumnya.





“Titik kritis, seperti keruntuhan arus Atlantik yang kritis atau lapisan es Greenland, Berencana Memiliki konsekuensi Dunia Untuk Kelompok. Beberapa Hingga antaranya diyakini telah mencapai, atau sangat Didekat Bersama, titik kritisnya, Tetapi waktu terjadinya sulit diprediksi. Bencana cuaca ekstrem yang terjadi bersamaan dapat menghancurkan Keadaan Ekonomi Negara,” kata para peneliti Bersama Universitas Exeter dan lembaga pemikir keuangan Carbon Tracker Initiative, mengutip The Guardian, Kamis (5/2).

Laporan mereka menyimpulkan bahwa pemerintah, regulator, dan Instruktur keuangan harus Menyediakan perhatian Pada risiko-risiko yang Memiliki dampak besar tapi Bersama probabilitas rendah ini.

Hal ini Lantaran menghindari hasil yang tidak dapat diubah, Bersama Memangkas emisi karbon jauh lebih murah daripada mencoba mengatasi konsekuensinya.

“Kami tidak Lagi Berusaha Mengatasi penyesuaian ekonomi yang dapat dikelola,” kata Jesse Abrams Bersama Universitas Exeter.

Para ilmuwan iklim yang disurvei Mengungkapkan Bersama tegas bahwa model ekonomi Pada ini belum mampu Menyita aspek paling krusial, yakni kegagalan berantai serta guncangan yang saling memperkuat yang menjadi ciri risiko iklim Hingga dunia yang Lebihterus hangat, dan Kebugaran tersebut Berpotensi Untuk mengancam fondasi Kemajuan ekonomi itu sendiri.

“Untuk lembaga keuangan dan pembuat Keputusan, ini adalah pemahaman yang keliru tentang risiko yang kita hadapi,” katanya.

Ia menggambarkan situasinya seperti krisis keuangan 2008, Tetapi Bersama perbedaan besar Lantaran kali ini Perawatan tidak dapat dilakukan seperti Sebelumnya.

Menurutnya, ketika ekosistem atau iklim Merasakan keruntuhan, manusia tidak dapat menyelamatkan Bumi sebagaimana bank-bank diselamatkan Pada krisis.

“Akibat Bersama nasihat ekonomi yang keliru adalah rasa aman yang meluas Hingga kalangan investor dan pembuat Keputusan. Ada kecenderungan Hingga beberapa departemen pemerintah Untuk meremehkan dampak Krisis Lingkungan Pada ekonomi agar terhindar Bersama keputusan sulit Pada ini. Ini adalah masalah besar, konsekuensi penundaan adalah bencana,” ujar Mark Campanale, CEO Carbon Tracker

Hetal Patel, Bersama Phoenix Group yang mengelola £300 miliar (Di Rp6.870 triliun) Penanaman Modal Asing jangka panjang Untuk pelanggannya, Mengungkapkan bahwa mengabaikan risiko fisik tidak hanya berdampak buruk Ke keputusan Penanaman Modal Asing, tetapi juga meremehkan konsekuensi nyata yang Ke akhirnya Berencana memengaruhi Kelompok secara keseluruhan.

Ke tahun 2025, aktuaris Meramalkan bahwa ekonomi Dunia dapat Merasakan kerugian sebesar 50 persen Di PDB Di tahun 2070 dan 2090 akibat guncangan iklim yang parah. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Prediksi Sebelumnya.

Laporan Terbaru ini mengutip keahlian 68 ilmuwan iklim Bersama lembaga Eksperimen dan lembaga pemerintah Hingga Inggris, Amerika Serikat, China, dan sembilan Negeri lainnya.

Temuan utama adalah bahwa, Walaupun model ekonomi tradisional mengaitkan kerusakan iklim Bersama perubahan suhu rata-rata, Kelompok dan pasar paling terdampak Bersama Trend Populer ekstrem seperti gelombang panas, Genangan Air, dan kekeringan.

Temuan lain Menunjukkan bahwa PDB dapat menyembunyikan biaya sebenarnya Bersama kerusakan iklim Bersama tidak memperhitungkan kematian, Gangguan, gangguan sosial, dan ekosistem yang rusak.

Para peneliti menambahkan bahwa PDB sebenarnya dapat Meresahkan Setelahnya bencana akibat pengeluaran Untuk Perawatan.

Mereka merekomendasikan Untuk lebih menekankan Ke ekstrem, bukan hanya Prediksi rata-rata, dan Ke kerentanan sistem keuangan secara keseluruhan, daripada menunggu model risiko yang sempurna.

Campanale menambahkan bahwa investor juga harus mempercepat transisi Bersama bahan bakar fosil sebagai kewajiban fidusia Untuk menghindari kerugian besar Hingga masa Didepan.

Model ekonomi Pada ini dapat Menyediakan Prediksi kerugian yang tampak presisi, tetapi para ilmuwan mengatakan Prediksi tersebut terlalu optimis.

“Beberapa orang mengatakan kita Berencana Merasakan penurunan PDB sebesar 10 persen Ke suhu Dunia Di 3 derajat Celcius dan 4 derajat Celsius, tetapi para ilmuwan iklim fisik mengatakan ekonomi dan Kelompok Berencana berhenti berfungsi seperti yang kita kenal. Itu adalah ketidakcocokan yang besar,” ungkap Abrams.

Laurie Laybourn Bersama Strategic Climate Risks Initiative Mengungkapkan bahwa dunia Pada ini Di Merasakan pergeseran paradigma Di hal Kelajuan, skala, dan tingkat keparahan risiko yang dipicu Bersama krisis iklim dan alam, Sambil banyak regulasi serta tindakan pemerintah masih belum sejalan Bersama realitas yang ada.

(wpj/dmi)



Artikel ini disadur –> Cnnindonesia.com Indonesia: Ahli Peringatkan Risiko Keruntuhan Ekonomi Dunia Akibat Krisis Iklim

สัมผัสความตื่นเต้นของเกมลิขสิทธิ์แท้และระบบที่เสถียรที่สุดเมื่อคุณเลือก ทดลองเล่นสล็อต pg ผ่านมือถือของคุณ