Jakarta –
Persaingan Pembaruan jaringan 5G Hingga Indonesia Di 2026 diproyeksikan Lebihterus Bersaing. Operator selular XLSmart, Telkomsel, dan Indosat Ooredoo Hutchison terus memperluas jaringan 5G Di strategi yang berbeda-beda, mulai Di ekspansi masif hingga Pembaruan berbasis kebutuhan kawasan tertentu.
Pengamat Komunikasi Di Institut Ilmu Pengetahuan Bandung (ITB), Ian Joseph Matheus Edward, menilai bahwa Indonesia mulai memasuki fase awal Ke era 5G sesungguhnya, meski masih Berjuang Di sejumlah tantangan struktural.
“Penetrasi 5G Hingga Indonesia Pada ini Disekitar 10 persen. Memang perlu Pembaruan secara masif. Tantangannya adalah backbone optik yang berada Hingga seluruh Area Indonesia dan pemilik handset 5G yang menyebar Hingga seluruh Area Indonesia,” ujar Ian dihubungi detikINET, Rabu (18/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, 2026 menjadi momentum penting Sebab pemanfaatan 5G mulai diarahkan Di use case yang lebih nyata, khususnya yang berkaitan Di kecerdasan buatan (AI).
“Tahun ini Berencana masuk Hingga era 5G Di salah satu use case pemanfaatan AI. Pembangunan use case seperti digital twin dan lainnya Berencana menjadi penggerak Hingga Indonesia yang memerlukan layanan Duniamaya Di 5G,” jelasnya.
Hingga sisi permintaan, Ian menegaskan bahwa kebutuhan Di jaringan berkecepatan tinggi Lebihterus Meresahkan seiring melonjaknya adopsi AI Hingga berbagai sektor. Tetapi, keterbatasan spektrum frekuensi masih menjadi potensi hambatan besar.
“Demand-nya memang tinggi. Spektrum harus segera dilakukan penambahan, misalnya Hingga 700 MHz (45 MHz) dan 2.6 GHz (190 MHz),” katanya.
Selain ketersediaan spektrum, aspek ekonomi juga menjadi sorotan, terutama Yang Berhubungan Di nilai harga dasar (reserved price) Di lelang frekuensi.
“Permasalahan lain, jika dilakukan lelang, berapa nilai reserved price yang masih dapat diterima agar pembangunan dapat dilakukan, Sebab biaya utama ada Hingga capex,” kata Ian.
Merespons keluhan operator mengenai tingginya regulatory charge yang berdampak Di keterbatasan Pembaruan infrastruktur, Ian menilai pemerintah perlu menyiapkan skema yang lebih adaptif.
“Perlu dilakukan model BHP yang Merencanakan dampak peningkatan pemerataan, sosial ekonomi Komunitas, kedaulatan data dan informasi, dan lain-lain. Bangsa diuntungkan Di Ppn serta Keadaan Komunitas. Insentif diberikan Sebab memang Menyediakan dampak Hingga Komunitas dan Bangsa,” pungkasnya.
(agt/agt)
Artikel ini disadur –> Inet.detik.com Indonesia: Adu Kencang Operator Bangun 5G, Pengamat Soroti PR Besar Pemerintah











