Jakarta -
Langkah Keluhan Masyarakat Didalam ratusan karyawan Google tampaknya tidak membuahkan hasil. Pemerintah Amerika Serikat Lewat Pentagon dilaporkan telah mencapai kesepakatan resmi Didalam Google Sebagai menggunakan sistem kecerdasan buatan (AI) Gemini Di jaringan rahasia militer mereka.
Informasi ini diungkapkan Dari seorang pejabat AS anonim yang mengetahui detail kesepakatan tersebut. Meski isi pasti dan rincian kontraknya masih dirahasiakan, langkah ini Lebih mengukuhkan ambisi Pejabat Tingginegara Lini Di AS, Pete Hegseth, yang bertekad mengubah militer AS menjadi pasukan yang mengutamakan AI.
Juru bicara Google, Kate Dreyer, tidak membantah maupun Memberi rincian spesifik mengenai Perjanjian rahasia tersebut. Akan Tetapi, ia menegaskan posisi perusahaan Untuk mendukung Keselamatan nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami bangga menjadi Pada Didalam konsorsium luas yang terdiri Didalam laboratorium AI terkemuka serta perusahaan Ilmu Pengetahuan dan cloud yang menyediakan layanan infrastruktur AI Sebagai mendukung Keselamatan nasional,” ujar Dreyer.
Dreyer juga menambahkan bahwa Google tetap berpegang teguh Di konsensus bahwa AI tidak boleh digunakan Sebagai pengawasan massal domestik atau persenjataan otonom tanpa adanya pengawasan manusia yang tepat.
Langkah keras Pentagon ini sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Michael Horowitz, mantan pejabat senior Lini Di yang kini menjadi profesor Di University of Pennsylvania, mencatat bahwa sistem AI Google Sebelumnya Itu sudah digunakan Di sistem publik.
Departemen Lini Di AS sendiri telah lama merangkul AI, mulai Didalam Membahas rekaman drone Pada melawan ISIS, merampingkan Ekspedisi, hingga secara aktif menggunakan AI Sebagai Pemberian penargetan Informasi Untuk Pertempuran Didalam Iran Pada ini.
Drama Sengit Pentagon vs Perusahaan AI
Kesepakatan Didalam Google ini terjadi Di Di upaya gencar Pentagon Untuk beberapa bulan terakhir Sebagai menegosiasikan Perjanjian Mutakhir Didalam empat raksasa AI Amerika. Pentagon ingin memasukkan klausul yang mengizinkan “segala penggunaan yang sah” atas sistem AI tersebut.
Keputusan sapu jagat ini memicu Perdebatan panas, terutama Didalam Anthropic. CEO Anthropic, Dario Amodei, menuntut jaminan kuat Didalam Pentagon bahwa model AI mereka tidak Akansegera disalahgunakan. Akibat penolakan tersebut, Hegseth melabeli Anthropic sebagai “risiko rantai pasokan Di Keselamatan nasional”–sebuah sebutan yang biasanya hanya ditujukan Sebagai Negeri musuh.
Eskalasi memuncak Di akhir Februari lalu ketika Pemimpin Negara Donald Trump turun tangan melarang seluruh lembaga federal menggunakan produk Anthropic. Buntutnya, Anthropic kini Di menggugat Departemen Lini Di AS Di Lembaga Proses Hukum.
Di sisi lain, OpenAI yang juga telah menyepakati Perjanjian serupa Didalam Pentagon, terpaksa harus merevisi ulang bahasa Untuk kesepakatan mereka Setelahnya diprotes Dari publik. CEO OpenAI, Sam Altman, mengubah klausul kesepakatan agar layanan OpenAI “tidak digunakan secara sengaja Sebagai pengawasan domestik Di warga Negeri AS.”
Akan Tetapi, jaminan Di atas Kertas sering kali berbeda Didalam praktik Di lapangan. Brian McGrail, Penasihat Senior Di Center for AI Safety, memperingatkan bahwa badan Informasi sering Memutuskan interpretasi yang sangat bebas Di Syarat Perjanjian mengenai pengawasan.
Lantaran isi Perjanjian kerja sama ini bersifat tertutup dan rahasia, McGrail menyebut publik Akansegera sangat kesulitan Sebagai menilai seberapa kuat sebenarnya larangan pengawasan domestik tersebut ditegakkan, demikian dikutip detikINET Didalam NBC News, Kamis (30/4/2026).
(asj/fay)
Artikel ini disadur –> Inet.detik.com Indonesia: Abaikan Keluhan Masyarakat Karyawan, Google Izinkan Militer AS Pakai AI Gemini











