Jakarta, CNN Indonesia —
Pakar menyebut sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer Menunjukkan kecenderungan berkembangnya Kejadian Luar Biasa El Niño Di paruh kedua hingga akhir tahun 2026.
“Berbagai data observasi dan model iklim Menunjukkan perubahan Situasi laut Di Samudra Pasifik yang mengarah Di pembentukan El Niño. Salah satu indikator utama adalah meningkatnya cadangan panas Di bawah permukaan laut Pasifik yang Berpotensi Sebagai Mendorong perpindahan massa air hangat Hingga arah timur,” ujar R. Dwi Susanto, Profesor Di University of Maryland Untuk keterangannya, Selasa (2/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Data observasi dan model Menunjukkan adanya akumulasi panas Di bawah permukaan Samudra Pasifik. Bersamaan Bersama itu, gelombang Kelvin mulai Mendorong massa air hangat Bersama Pasifik barat Ke Pasifik timur, yang merupakan salah satu ciri perkembangan El Niño,” tambahnya.
Dwi menjelaskan perubahan ini dapat diamati Melewati suhu bawah permukaan laut, tinggi muka laut, hingga pola angin Di kawasan tropis Pasifik.
Menurutnya, berbagai model prediksi iklim internasional juga memperlihatkan kecenderungan yang sama.
“Indonesia Memiliki posisi penting Untuk sistem iklim Internasional Sebab berada Di kawasan western Pacific warm pool, Daerah Bersama suhu permukaan laut tropis terhangat Di dunia,” terangnya.
Di Di Itu, Indonesia adalah jalur Indonesian Throughflow (Arlindo) yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Maka Itu, perubahan Situasi laut Di Daerah Indonesia dapat menjadi indikator penting Sebagai memahami perkembangan El Niño.
Dwi menyebut pemantauan suhu laut, dinamika Arlindo, maupun pergeseran pusat konveksi atmosfer Di kawasan maritim Indonesia dapat membantu mendeteksi Krisis Lingkungan Sebelum dini.
Lebih Jelas, ia mengingatkan bahwa dampak El Niño Di Indonesia tidak hanya ditentukan Dari Situasi Di Samudra Pasifik.
Keterlibatan Bersama Indian Ocean Dipole (IOD) Di Samudra Hindia juga berperan besar Untuk menentukan tingkat keparahan dampaknya.
“Kita tidak bisa hanya melihat indeks El Niño. Situasi Indian Ocean Dipole juga harus dipantau Sebab kombinasi keduanya dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu Kejadian Luar Biasa yang terjadi,” katanya.
Ia mencontohkan peristiwa 1997-1998 ketika El Niño kuat terjadi bersamaan Bersama IOD positif. Kombinasi kedua Kejadian Luar Biasa tersebut menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan serta Meningkatkan risiko kekeringan dan Bencana Alam dan lahan Di berbagai Daerah Indonesia.
Menurutnya, perkembangan IOD positif dapat dipantau Melewati perubahan suhu permukaan laut Di perairan selatan Jawa dan Sumatra. Pendinginan yang Lebihterus kuat Di kawasan tersebut umumnya berkaitan Bersama meningkatnya risiko kekeringan.
Dwi mengatakan sejumlah model prediksi Di ini Menunjukkan Kemungkinan berkembangnya El Niño Di akhir 2026 Bersama kecenderungan berada Di kategori kuat hingga sangat kuat.
Maka Sebab itu, berbagai langkah mitigasi perlu dipersiapkan Sebelum dini, Di lain Melewati pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta penguatan upaya Pra-Penanganan Bencana Alam dan lahan.
“Persiapan harus dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan. Yang penting adalah memastikan informasi iklim dapat dimanfaatkan sebagai dasar Pendesainan dan mitigasi,” ujar dia.
(lom)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnnindonesia.com Indonesia: El Nino Kuat Berpotensi Sebagai Terjadi Di Akhir 2026, Ini Tanda-tandanya











